askep abortus inkomplit



  1. DEFINISI
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar (Sarwono, 2002). Sedangkan abortus inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan kurang dri 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus (winkjasastro, 1999).
Abortus inkomplet adalah hanya sebagian dari hasil sisa konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidual atau plasenta (Muchtar, 2001).
Jenis – jenis abortus menurut kejadian:
  1. abortus iminem    : keguguran yang mengancam
  2. abortus incipien   : keguguran yang sedang berlangsung
  3. abortus komplet   : keguguran buah kehamilan lengkap
  4. abortus inkomplit :keguguran tidak lengkap

  1. Etiologi
Penyebab abortus sebagian besar belum diketahui dengan pasti tapi ada factor-faktor yang berkaitan, yaitu:
  1. Factor pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena:
a.      Factor kromosom : gangguan terjadi sejak semula pertumbuhan kromosom
b.     Factor lingungan endometrium
endometrium belum siap untuk menerima hasil implantasi konsepsi
gizi ibu kurang karena anemia atau terlalu pendeknya jarak kehamilan
c.      Pengaruh luar:
infeksi endomertium
obat-obatan dan radiasi
  1. Kelainan plasenta
a.   infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab sehingga plasenta tidak berfungsi dengan baik.
b.   Gangguan pembuluh darah plasenta
c.   Hipertensi yang menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga terjadi abortus
  1. Penyakit ibu : penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta. Penyakit ibu meliputi:
a.      infeksi, seperti : pneumonia, typus abdominalis, malaria, sifilis
b.     anemia ibu melalui gangguan nutrisi dan peredaran darah oksigen menujukan sirkulasi retrplasenta.
c.      Penyakit menaun, misalnya: hipertensi, ginjal dan hati.
  1. Kelainan pada rahim : rahim merupakan tempat tumbuh kembang janin, dijumpai keadaan abnormal, misalnya mioma uteri, serviks dan inkomplet.
  2. Perangsangan pada ibu yang menyebabkan uterus berkontraksi, misalnya terkejut, obat u terotonika, ketakutan, laparatomi atau karena trauma langsung terhadap fetus selaput janin dan obat-obatan.

  1. Manifestasi klinis
  1. terlambatnya haid/aminorea kurang dari 20 mingggu
  2. pad pemerikasaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun. TD normal atau turun, nadi normal atau cepat, kecil, suhu badan normal.
  3. perdarahan pervaginaan atau mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
  4. rasa mual atau keram perut di daerah atas simpisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus.
  5. Pemeriksaan genekologi :
·       Inspeksi vulva : PPV, ada/tidak jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk vulva.
·       Inspekulo: perdarahan pada vavum uteri, ostium uteri terbuka/susah menutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
·       Vagina Toch : porsio masih terbuka atau sudah tertutup teraba atau jaringan dari kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak terasa nyeri saat perabaan adneksa.

  1. Patogenesis
Pada awal abortus terjadi perdarahan desidual basalis diikuti dengan nektosisi jaringan sekitas yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut pada kehamilan kurang dari 8 minggu. Vill korealis belum menembus desidual secara dalam sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8-14 minggu penembusaan sudah lebih dalam sehingga plasenta tidak dilepaskan sempurn dan menimbulkan perdarahan.

  1. Penatalaksanaan
·       Bila ada tanda-tanda syok karena perdarahan, berikan infuse Nacl fisiolgi atau ringer laktat dan secepat mungkin diberi transfuse darah.
·       Setelah syok diatasi lakukan kerokan dan koret tajam lalu suntikan ergometrin 0,2 mg 1 m.
·       Bila janin sudah keluar tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara normal.
Dirumah sakit:
·       Rawat paisen di ruangan khusus untuk kasus infeksi
·       Berikan antibiotic IV, penisilin 10-20 IU dan streptomisin 2 gr.
·       berikan infuse Nacl fisiolgi atau ringer laktat
·       Pantau ketat keadaan umum : TD, nadi dan suhu badan
·       Oksigennasi bila perlu
·       Pang kateter untuk pantau urin out put
·       Pemerikasaan Lab: darah lengkap, hematokir, AGD, kultur darah, test resistensi.
·       Bila kondisi pasien sudah stabil segera lakukan peningkatan.
·       Abortus septic mengalami komplikasi menjadi syok septic, yang tanda-tandanya panas tinggi/hipotermi, bradikardi, ikterus, kesadaran menurun, Td menurun, sesak nafas.
Peralatan koretase pada abortus:
1.     Conam tampon
2.     Tengkulum
3.     Klem oum
4.     Sendok koret
5.     Sonde oterus
6.     Speculum sim L atau S
7.     Kateter karet.
Cara koretase:
1.     Pasien dalam posisi litotomi
2.     Suntikan valium 10 mg dan atropine sulfat 0,25 mg IU
3.     Tidakan antiseptic genetalia platerna, vagina dan serviks
4.     Kosongkan kandung kemih
5.     Pasang speculum vagina, selanjutnya servik dipesenrasikan dengan tengkulum menyempit dinding depan porsio pada jam 12. Angkat speculum depan dan belakan dipegang oleh asisten.
6.     Masukkan sonde uterus dengan hati-hati untuk menentukan besar dan arah uterus
7.     Keluarkan jaringan dengan cunam abortus, dilajutkan dengan kuret tumpul secara sistematis menurut putaran jarum jam, usahakan seluruh kavum uteri dikerok.
8.     Setelah diyakini tidak ada perdarahan, tidakan dihentikan. Awasi TTV 15-30 menit.





  1. Komplikasi
1.     Perdarahan
2.     Perforsi, sering terjadi sewaku dilatasi dan kuretase yang dilakukan oleh tenaga tidak ahli
3.     Infeksi dan tetanus
4.     Payah ginjal akut
5.     Syok yang disebabkan oleh:
·       Perdarahan banyak : syok hemragik
·       Infeksi berat atau sepsis : syok septic

  1. Pemerikasaan penunjang
·       tes kehamilan : positive bila janin masih hidup, bakan 2-3 minggu setelah abortus
·       Pemerikasaan dopler atau USG utuk menentukan apakah janin masih hidup
·       Pemerikasaan fibrinogen dalam darah pada miss abortion

  1. Pengkajian data focus
1.     Aktivitas/istirahat
·       Catat adanya kelemahan atau keletihan, kaji pola aktivitas klien, kaji pola istirahat, kurang energy, penurunan penampilan.
2.     Sirkulasi
·       Tekanan darah dapat menurun, manifestasi pada tubuh (muka pucat konjungtiva anemis)
3.     Eliminasi
·       Melaporkan ada gangguan pengeluaran urin atau ingin kencing terus, sensai ingin BAB
4.     Nyeri atau ketidaknyaman
·       Nyeri pada abdomen : kontaksi jarang, intensitas ringan samapi sedang
5.     Integritas ego
·       Mungkin sangat cemas/ketakutan
6.     Perikasaan diagnostic
·       Pemerikasaan urin untuk mengetahui HCG
·       Pemerikasaan kehamilan dan USG

                        Nursing Care Plan
  1. Dx: I kurang voume ciran b/d kehilangan berlebihan melalui perdarahan setelah dilakukan tindakan keperawatan  2x24 jam, volume cairan tubuh dapat tercukupi, dengan KH:
·       TD normal (<140 dan < 90 mmHg)
·       Nadi teraba kuat (60-100x/menit)
·       Kelelahan dan kelemahan berkurang
Intervensi :
1.     Pantau TTV : perhatikan adanya perubahan TDpostural dan observasi terhadap peningkatan suhu. Reaksi perubahan TTV bermanfaat dalam pemantauan perubahan cairan dan respon terhadap terapi penggantian. Semam meningkatkan metabolism dan mengeksaserbasi kehilangan cairan.
2.     Ukur dan catat output dan input cairan
Reaksi dokumentasi yang akurad membantu kebutuhan pengganti cairan
3.     Pantau urin output
Reaksi mengidentifikasi pengeluaran cairan
4.     Atur diet K (dorong klien untuk makan makanan yang banyak mengandung air, misalnya sayur dan buah-buahan)
5.     Kolaborasi pemberian Obat
Reaksi menghilangkan kausa dan mengganti cairan
6.     Lakukan pemeriksaan lab( terutama Hb)
Reaksi mematau perkembangan terapi

II.               Dx II Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kontraksi uterus
Setelah dikaukan tindakan 2x24 jan, klien merasa nyeri bisa berkuang dengan KH:
    • Klien melporkan nyeri berkurang
    • Skala nyeri menurun / tidak ada 1-2
    • Muka klien tampak tenang atau rileks
      Intervensi :
  1. Kaji nyeri (P,Q,R,S,T)
Reaksi menentukan intervensi yang tepat
  1. Kaji TTV, perhaikan taki kardi, hipertensi, dan peningkatan pernafasan
Reaksi mengidentifikasi nyeri akud
  1. Atur posisi klien (semi fomler)
Reaksi meningkatkan sirkulasi, menurunkan rasa sakit
  1. Anjurkan teknik relaksasi nafas dalam
Reaksi menurunkan rasa sakit
  1. Kolaborasi pemberian analgetik
Reaksi menurunkan rasa sakit

III.             Dx III. Intoleransi aktivitas b/d nyeri
Setelah dilakukan tindakan 2x24 jam, klien dapat memenuhi kebutuhan aktivitas sehari – hari, dengan KH:
·       Pasien melaporkan peningkatan aktivitas (termasuk aktivitas sehari-hari)
·       TTV masih dalam batas normal
·       (TD < 140 dan <90 mmHg)
·       (N 60-100 x/menit)
·       (S 36,5 – 37,5 C)
·       (RR 16-24 x/menit)
Intervansi:
1.     Kaji kemampuan klien untuk melakukan aktivitas, cacat adanya kelelahan dan kesulitan beraktivitas.
Reaksi menentukan intervensi yang tetap
2.     Pantau TTV sebelum dan selama dan sesudah beraktivitas
Reaksi memonitoring toleransi aktivitas
3.     Ubah posisi klien dan pantau terhadap pusing
Reaksi hipotesis postural/hipoksia serebaral
4.     Anjurkan klien untuk menghentikan aktivitas bila terjadii nyeri dada, nafas dalam, kelemahan atau pusing
Reaksi menunjukan adanya regangan stress kardio pulmonal

IV. Dx. Resiko infeksi b/d perforasi jaringan
  Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam, dengan KH:
·       resiko infeksi tidak terjadi Tidak ada tanda-tanda infeksi (R C D T F)
·       Tidak terjadi infeksi
·       TTV normal:
·       (TD < 140 dan <90 mmHg)
·       (N 60-100 x/menit)
·       (S 36,5 – 37,5 C)
·       (RR 16-24 x/menit)
Intervensi :
1.     Kaji tanda-tanda infeksi (R C D T F)
Reaksi menetukan intervansi yang tepat
2.     Pantau TTV
Reaksi monitoring adanya infeksi
3.     Control infeksi dengan alat steril dan teknik aseptic
Reaksi mencegah terjadinya infeksi
4.     Lakukan pemerikasaan darah lengkap
Reaksi monitoring terjadinya infeksi
5.     Tingkatkan nutrisi ibu
Reaksi meningkatkan daya tahan tubuh
6.     Kolaborasi pemberian antibiotic
Reaksi menurunkan kolonisasi kuman penyebab infeksi.

                       





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

1 komentar:

Berbagi Ilmu mengatakan...


thaks min sangat membantu benget dalam saya ngerjain tugas kuliah ini.
saya mau izin sharing materi keperawatan, semoga bermanfaat bagi semuanya.

Aplikasi Android UKOM
perawat indonesia
materi Ukom perawat
soal dan pembahasan uji kompetensi perawat
farmakologi dan soal farmakologi
ukom
askep
askep 2
diagnosa nanda
Dan masih banyak lagi materi lainnya disana

Posting Komentar